Surat dari Belanda: Mencari Saksi Kejadian

Surat dari Bapak Robert Mentz di Belanda
(ke info@salatiga.biz — beberapa kata diedit, agar lebih mudah dimengerti)

Surat I

Salam kenal,
Perkenalkan nama saya Robert Mentz, kelahiran Semarang di tahun 1940.
Ketika perang dunia kedua berlanjut dan Jepang masuk Indonesia, saya menetap di Bandungan (Ambarawa). Waktu itu saya sebagai anak kecil diasuh oleh ibu saya, peranakan kelahiran Pekalongan, dan nenek saya seorang Indonesia asli kelahiran Majalengka.

Ketika kediaman di Bandungan mulai tidak aman, kami bertiga naik pedati ke Salatiga mencari tempat perlindungan di sebuah sekolah H.I.S. di Salatiga. Ternyata semua ruangan kelas sudah penuh dengan keluarga-keluarga yang mencari tempat bernaung. Kami terpaksa bermalam di gang yang berada diluar kelas. Karena kehujanan di tengah jalan dari Bandungan, bulzak (tempat tidur) kami basah dan disandarkan pada tembok yang memisahkan kami dengan kelas yang ada dibelakangnya.

Pagi hari ketika menuju ruangan untuk mandi ada suara seperti siulan lalu disusul dengan suara ledakan yang dahsyat. Ternyata ada granat yang masuk di ruangan mandi yang hanya dikelilingi oleh tembok tanpa beratap. Kulihat teman main banyak yang hancur badannya.

Maka sekarang ada pertanyaan saya, masih adakah di Salatiga catatan tentang musibah ini, dan kalau ada dapatkah saya peroleh? Mengenai tepatnya kejadian ini saya tidak tahu, ibu saya tak pernah bercerita tentang hal ini, dan sekarang nenek dan ibu saya sudah meninggal dunia, maka saya kirim pertanyaan saya ke Salatiga, barangkali ada arsip?

Terima kasih sebelumnya, barangkali ada yang dapat menolong saya menjelajah waktu lampau.

Terimalah salam dari saya,
Pak Robert

Surat II

Memang kurasa sulit untuk mendapat jawaban tentang kejadian itu karena sudah begitu lama terjadi.

Yang membingungkan saya juga adalah bahwa itu ruangan untuk mandi, meskipun tidak beratap, tapi cukup besar untuk memuat beberapa orang, tetapi atas pertanyaan saya ini saya peroleh jawaban dari ayah saya sendiri beberapa bulan sebelum beliau meninggal 11 tahun yang lalu. Dia berkata bahwa sekolah H.I.S. itu akhir tahun 1930-an dipakai olehnya untuk tempat tinggal calon polisi. Ayah saya waktu sebelum perang menjabat sebagai kepala polisi daerah Salatiga, dan dia mencari tempat untuk menempatkan mereka yang mau menjadi polisi dan ketika itu sekolah H.I.S. ini ternyata tidak terpakai lagi karena kekurangan murid, lalu atas perintahnya, ruangan mandi diperbesar, dan memang tanpa atap, asal dikelilingi tembok cukuplah.

Setelah kejadian itu saya beserta ibu dan nenek diungsikan ke Ambarawa sampai habis perang. Itu habisnya perang saya alami dan masih terkesan karena di samping tempat kami ditahan (dikelilingi tembok tinggi) rupanya ada ruangan besar (barangkali alun-alun) dimana dijatuhkan paket-paket (bungkusan-bungkusan) yang digantung di bawah parasut yang diterjunkan dari kapal terbang. Bungkusan itu isinya antara lain bahan makanan dan sisir rambut plastik yang warnanya menyolok mata.

Lalu kami bertiga dari Ambarawa diangkut naik mobil truk tentara sampai landasan kapal terbang dan dengan kapal terbang milik tentara kami diterbangkan ke Jakarta dimana kami dapat tempat untuk tinggal secara darurat di Jl. Raden Saleh. Yang punya rumah besar itu punya perusahaan kembang dan bunga-bunganya didatangkan dari Sindanglaya (dekat Puncak). Sampai sini dulu cerita saya ini.

Terimalah salam terimakasih dari saya,
Pak Robert

Ada yang bisa membantu?
Jika bapak/ibu/saudara dapat memberi informasi mengenai kejadian yang dialami Pak Robert ketika berada di Salatiga, ketika jaman Jepang dulu, silakan sampaikan kepada kami, (info@salatiga.biz), untuk kemudian kami sampaikan ke Pak Robert.

Tks,
Admin

Komentar (9)

  1. Kasihan juga Pak Robert ini …

    STR | 28/09/07 | Balas

  2. Mungkin yng dimaksudkan ,mrk pernah diinternir di Beteng Pendem.Ambarawa. Tempat tsb hingga kinipun sebagian masih menjadi tempat tahanan. Sebagian lagi rusak dan dipergunakan utk sarangburung walet. Kiranya Pak Robert bisa ‘ziarah’ ke Badungan-Salatiga-Ambarawa. Mungkin sekali HIS yng dimaksud adalah salahsatu dari gedung SD di sblh Bank BCA,atau gedung SD didepan gereja Kristus Sejati. Detailnya akn dicek lagi.

    Tri Kadarsilo | 1/10/07 | Balas

  3. Dari keterangan Bpk. Uyik Sudargo (adik dari Laksamana Yos Sudarso alm.)di Sltg Jaman Belanda ada dua HIS yng terletak di Jl. R.Patah sekarang. Satu HIS Swasta terletak di belakang gereja Katolik St.Miki sekarang, dan HIS-Biasa menempati bangunan yng dipergunakan sbg Kantor Korem 073 Makutoromo sekarang ini, di seberangnya. Yng diceritakan Pak Robert sangat mungkin adalah bangunan Kantor Korem sekarang ini. Semoga keterangan ini ada manfaatnya.

    Tri Kadarsilo | 20/10/07 | Balas

  4. terima kasih Pak Tri,
    saya sampaikan info ini ke Pak Robert di Belanda

    salatiga(dot)biz | 21/10/07 | Balas

  5. Saya sempat membaca-baca buku teman saya,buku tersebut bercerita tentang keadaan kota Salatiga pada masa tersebut. Kalau tidak salah buku tersebut berjudul Salatiga “Sketsa Kota Lama” dengan penulis pak Edi Supangat. Buku tersebut menggambarkan keadaan kota Salatiga pada masa penjajahan. Tetapi saya membaca buku tersebut tidak sampai selesai karena teman saya yang memiliki buku tersebut, meminta untuk mengembalikan, dengan alasan dia juga belum selesai membacanya. Mungkin buku tersebut dapat membantu pak Robert untuk mengungkap kejadian yang beliau alami.

    Anangga R | 7/11/07 | Balas

  6. Wah nasibnya pak Robert kok sama dengan saya ya..sejak kecil kami juga belum pernah melihat wajah nenek saya…kata bapak saya, saat masih kecil nenek(ibu Bapak saya) waktu muda diambil istri oleh orang belanda dan dibawa kesana..nama bapak saya Marmin dari desa Gentan Bringin..bisakah pak Robert membantu apakah nenek saya masih hidup…mungkin dia disana juga punya anak dan cucu….

    Totok M. | 1/02/08 | Balas

  7. wah….Belanda luas mas Totok…
    tapi ya tidak menutup kemungkinan ya….

    Admin | 1/02/08 | Balas

  8. is there any one who knows any source about this subject in other languages?

    Yaz Okulu | 7/03/08 | Balas

  9. do you mean: in english?
    please feel free to post your comments or/and questions here.

    someone | 8/03/08 | Balas

Tinggalkan komentar anda!