PT Hangat Sesa(a)t
Admin pada tanggal 21/09/07 | Sampah
Suatu kali, di suatu malam, saya lewat di salah satu sudut jalan di kota Salatiga. Seorang perempuan setengah tua berdiri di trotoar dengan tatapan mata penuh harapan pada lampu-lampu mobil yang melintas di jalan di depannya.
Ya … Saya tahu dia adalah seorang perempuan pramuraga, eh pramunikmat (maksud saya pelacur) yang tersisih dari komunitasnya (mungkin karena usianya sudah tergolong tua), karena pasti tidak dipilih ketika bersama teman-temannya ngetem menunggu penumpang di “terminal” (baca: lokalisasi).
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah saya merenung. Tulisan ini adalah hasil perenungan saya yang tersalurkan melalui gerakan jari-jari nakal di tombol-tombol keyboard laptop hitam.
Perempuan berwajah agak tua itu, mungkin belum begitu tua, tetapi terlalu tua untuk berkompetisi dengan perempuan-perempuan muda yang lebih wangi, lebih lincah, dan lebih memikat. Dia berwajah tua mungkin karena menahan penderitaan hidup yang sangat berat. Bukan berat karena sering “ditindih” pria-pria hidung belang, tetapi beratnya hati dan perasaan karena harus menjalani hidup yang memilukan, penuh kepura-puraan.
Kepura-puraan? Ya, perempuan itu dan perempuan-perempuan lain yang seprofesi, seringkali harus berpura-pura gembira, sedangkan hatinya sedih. Berpura-pura tertawa, sedangkan hatinya menangis. Ini adalah peran yang membuat seseorang lebih cepat menjadi kelihatan tua. Saya membayangkan betapa sulit peran yang harus dijalani oleh perempuan-perempuan pelacur. Mereka tidak cukup hanya terlentang, lepas celana, dan buka paha, lalu diam, dingin, seperti batang pohon pisang. Tetapi juga dituntut berperan aktif untuk dapat menjadi ibu bagi anak-anak yang kesepian, menjadi kakak bagi adik-adik yang kebingungan, menjadi teman bagi yang merasa sendirian, menjadi mainan bagi bapak-bapak yang kekanak-kanakan, menjadi guru bagi yang sedang belajar main gituan …
Berapa upah mereka? Apa mereka ikut Jamsostek (jaminan sosial tenaga kerja)? Apa mereka akan mendapat uang pensiun? Inilah pertanyaan perenungan saya, yang hingga kini mengusik hati dan pikiran saya.
Seandainya boleh membuka bisnis pelacuran. Ya, seandainya … Boleh.
Mungkin saya akan memerlukan manajer SDM yang bertugas untuk merekrut dan mendidik mereka menjadi pelacur yang profesional. Mungkin saya akan angkat manajer quality control, yang bertanggung jawab untuk menjamin mereka tetap hangat, sehingga pelanggan akan puas dan melakukan repeat order untuk menikmati layanan perusahaan jasa PT Hangat Sesa(a)t ini …
Mungkin saya akan rekrut manajer keuangan, yang mengelola keuangan perusahaan agar dapat mengikutkan mereka pada program asuransi jiwa dan kesehatan serta menjamin mereka dengan program pensiun yang bagus, sehingga mereka dapat pensiun sebelum menopause.
Mungkin saya akan mencarikan atau memberi beasiswa untuk sekolah anak-anak mereka. Mungkin saya akan mengangkat rohaniwan untuk selalu mendoakan mereka. Dan mungkin saya akan mengiklankan perusahaan saya di website ini, siapa tahu ada yang berminat bekerja sama?
Mau melamar jadi tenaga kerja? Minta gaji berapa?
Oh ya, ini syarat-syarat kalau mau melamar jadi karyawan di perusahaan saya:
- Wanita, sudah akil balig.
- Bersedia bekerja “under pressure/di bawah tekanan” (bersedia ditekan-tekan).
- Bersedia ditempatkan di manapun (di bawah, di atas, di samping, atau di depan).
- Bisa bekerja dalam tim (bisa bekerja bersama dengan teman-teman lainnya).
- Lincah, atraktif, dan kreatif.
- Penampilan menarik (good looking).
- Tidak alergi terhadap udara dingin (bersedia berpakaian dinas “celana miskin dan baju miskin“).
- Diutamakan yang belum berpengalaman, dan bersedia diberi pelatihan.
Atau mau jadi klien? Pilih yang mana? Yang baru apa bekas? Berani membayar berapa?
Ah … Ini semua hanya pengembaraan liar dari otak iseng saya yang lagi enggan diajak mikir hal-hal yang serius.
Kok malah anda yang serius …?!
jadi ingat sama lagu Ebiet. G Ade yang berjudul Gadis Remang-remang
waktu kau bicara
berhamburlah bujuk manis bagai madu
melantunkan s’gala pujian
bergelora dada setiap lelaki yang mendengar
waktu kau menatap
kau rentang busu, kau lepas anak panah
menuju sasaran akurat
berbungalah dada setiap lelaki yang terlena
gadis, jalan yang kau tempuh rasanya keliru
malam yang bening ini engkau perlakukan rumah kegelapan
aku nasihatkan kepadamu tak semua lelaki gampang tergoda
tak akan lama kau dapat bertahan di dalam nista
waktu t’lah berjalan semua mata merobekmu hina dina
hanya tinggallah satu jalan
bertobat dan kubur semua kenangan,
gadis jalang
gadis, mimpimu kusut pasai seperti sampah
malam yang bening ini engkau perlakukan rumah kegelapan
aku nasihatkan kepadamu tak akan lama nikmat akan kau rengkuh
tak akan lama kau dapat bertahan di dalam nista
comment: emang masih gadis tuh ‘perempuan’ remang-remang?
Itulah kekuatan dari statistic dan tahu cara menempatkannya dengan benar. Tapi tentu aja ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar semuanya itu terlaksana dengan baik. (jangan kuatir syaratnya cukup mudah.., disiplin, dedikasi, tahu ilmu statistic dan tentu saja sedikit duit untuk modal ilmunya.)


Kalo gitu saya mau ndaftar jadi klien, kkekeke
STR | 22/09/07 | Balas
Saya pesan satu. Kirim ke rumah aja. Hehe
andi | 22/09/07 | Balas
asstogfirullah, wah anda ini gimana malah mau buka hal semacam itu. bagaimana kalau saudara anda berprofesi kayak gitu. ya harusnya malah membuka usaha yang positif, ya seperti buat roti,enting2,sandal,dll. dari usaha anda itu maka anda rekrut para pramunikmat tersebut untuk mengurangi penderitaan mereka.dengan begitu maka mereka tdk perlu kedinginan,berpaikaian miskin dan apalagi ditekan-tekan.hehehehe
rido prasadana | 24/09/07 | Balas
itu namanya necessary evil, pilihan terbaik dari yang buruk, dari pada mereka kalau tua nggak punya jaminan hidup yang baik, bukankah lebih baik jika mereka ‘diopeni’ dengan baik…, kasih pensiun, jaminan hari tua yang layak, bukankah mereka sudah kerja keras? (ya.. kalau nggak keras-keras, kapan mereka kerja?, he he he..)
(oh ya saya pernah baca di dikoran, di belanda sudah ada sekolah calon pelacur lho….. — seandainya disini boleh mendirikan sekolah spt itu, siapa mau jadi guru??????)
ya pilihan terbaik memang, tidak menjadi pelacur. tapi mereka melacur, karena ada yang membutuhkan lho,– jadi ingat lagunya Titik Puspa “…sucikah mereka yang datang…”
wit | 25/09/07 | Balas
Mas, saya ndaftar part time blh ndak?
puput | 28/09/07 | Balas
Tunjukkan OTAK orang Salatiga yang beriman tanpa neko2 dan sembrono,jika anda berpikir hal2 iseng/kotor…..APA KATA DUNIA.Cukup Sampaikan solidaritas itu dengan kalimat yang santun,bijak dan arief.Lihatlah tulisan keprihatinan anda jadi tak berarti apa2,hanya jadi bahan guyonan mesum oleh komentar.Sungguh sangat disayangkan anda cukup jeli terhadap lingkungan tapi Katro’juga….sadarkah tulisan kita terbaca sedunia bukan dalam buku harian…Bagaimana!? Salam damai utk anda seorang dan salam sejahtera buat seluruh saudaraku warga Salatiga.
Samanurdin | 3/10/07 | Balas
Salam kenal, Mas Samanurdin!
Halah, itu kan cuma otak2 yang ngasi komen aja yang mesum. Cuma kayak gitu aja kok dibilang neko2? Saya pikir anda cuma tertutup aja.
STR | 3/10/07 | Balas
justru iman itu akan teruji jika menghadapi hal-hal yang “haram”. justru mengherankan jika mengatakan beriman pada “Tuhan” tapi tidak berani masuk ke wilayah-wilayah yang berbau “Setan”.
iman yang kuat akan tahan uji. dan kata-kata saleh penuh hikmat, tidak berkorelasi positif dengan iman seseorang…
mas..saya punya kenalan, rajin ke tempat ibadah, nggak pernah buka site2 porno dari internet, tapi barusan (maksa) “main gituan” sama seorang janda, sampai tuh janda nangis2 menyesal dan minta jalan keluar sama teman saya yang lain…
jadi saya pikir, tulisan diatas “nggak ada apa-apanya” dengan kelakuan bejat yang tak terungkap dengan kata-kata, namun terjadi dalam kehidupan sehari-hari. kita saja yang sok suci, sok rohani, sok benar, sampai berani menghakimi orang lain nggak beriman, orang lain nggak benar, orang lain sesat dsb.
tulisan diatas juga nggak ada apa-apanya dengan cerita seru yang bertebaran di internet. ayo ngaku, siapa yang suka browsing website porno? siapa yang menyimpan cerita seru atau gambar porno di hardisk atau CD?
wit | 4/10/07 | Balas
Hmm….
Tulisan yang menarik…dan betul kata Titik Puspa…”ada yang benci dirinya…ada yang bertekuk lutut mencintainya”……
Hehehe…asik dan seru juga kriteria PT Hangat Sesa(a)t diatas……..
Tentu saja dengan cara berpikir yang gak ngeres duluan….kalo udah ngeres… ya repot… hahaha…..
Johan | 7/10/07 | Balas
Mungkin kalo prostitusi dilegalkan dan ditangani secara profesional… Para perempuan itu tidak akan turun ke jalan dan mengais remah rupiah dari para hidung belang yang ngga bisa nahan… kesejahteraan mereka akan terjamin oleh standar gaji yang memadahi… kesehatan mereka terjaga dengan baik karena pasti akan ada fasilitas untuk itu… penyakit juga bisa dikendalikan penyebarannya… kenapa tidak??? toh selalu ada hidung belang disekitar kita…
AW | 10/10/07 | Balas
kalau sejenis PT Hangat Sesa(a)t, sepertinya sudah banyak ya. Sudah banyak tempat prostitusi yang ‘dilegalkan’ dan sudah menjadi ‘rahasia umum’. sudah dikelolah secara profesional. ada tempat khususnya. datang ke t4 tersebut, sudah disediakan kamar. tinggal milih pasangan. yang Anda ‘lihat’ dijalan2 itu, mungkin yg ‘eceran’ yg tidak memenuhi syarat dari PT Hangat Sesa(a)t, tapi masih laku di pasar eceran. Thanks.
MLK | 17/10/07 | Balas
nah itulah.. sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, tetapi kenapa tidak diumumkan sekalian?
khan malah tahu siapa di sana, siapa mereka, dari pada munafik.., nampaknya alim, ternyata lalim..
wit | 18/10/07 | Balas
mmm…, sepertinya tidak perlu untuk diumumkan ya. Yang penting, yang butuh ya tahu… tempatnya dimana. yang penting kita saling ‘toleransi’ saja. kita saling menghargai profesi masing2. ‘diluar sana’ juga tidak diumumkan juga koq. Cuma ada media khusus untuk yg membutuhkan dapat memperoleh informasi disana. Jadi bagi mereka ‘yang tidak butuh’, ya tidak perlu ‘menghakimi’ bahwa itu tidak boleh, apalagi sampai menilai hal itu sebagai hal yang ‘haram’. Intinya adalah, jika kita saling menghargai dan tidak menghakimi dengan mengatas namakan ‘Agama’, saya pikir kehidupan kita akan lebih ‘Tenteram’, bahkan/walaupun tanpa adanya ‘lembaga’ yg disebut Agama.
MLK | 19/10/07 | Balas
andaikan mereka ada, karena memang mereka butuh uang. tetapi bagaimana kita yang memandangnya saja. seperti itu bisa disebut lintas profesi. tidak hanya mereka yang tidak punya profesi tetap. mahasiswapun ada kok.
hanya bagaimana WPS bisa melihat kesehatannya sendiri. makanya untuk para pelanggannya sadarlah, mereka hanya butuh uang dan kepuasan saja. tetapi mereka tidak mau terkena virus mematikan. para pelanggan dan WPS gunakan kondom dan selalu melakukan tes HIV… di Puskesmas Sidorejo Lor. Gratis kok….
PL Yayasan Gessang Kota Salatiga
Theodurus Gary Natanael | 27/10/07 | Balas
seandenya pun semua demi uang bisa juga kan kalo kita yang sebagai rakyat yang gak mendukung adanya pelacuran itu menunjukkan sikap yang lebih ramah dalam tanda” gak ngremehin. perlu banget deh tempat lokalisasi yang jauh dari peradapan manusia biasa. toh tetep ada banyak laki-laki hidung belang yang membutuhkan kehangatan pelacur, hehehe….
Devi Wulan | 29/10/07 | Balas
wah seru nih.ini pilihan hidup.ketika perempuan2 itu memutuskan untuk menjual tubuh mereka dan menjadi pramunikmat semua jenis pria dengan segala kebusukan, kebejatan, dan kebrengsekan mereka yang ingin terpuaskan diluar sana, it’s your Choice! tapi,satu hal! sex yang abadi sepanjang masa dan tidak hanya sesa(a)t, ketika kita belajar untuk menikmatinya bersama pasangan tetap kita.untuk itu sebisa mungkin jaga kualitas dalam percintaan.ini memang klise.tapi,kenikmatan yg akan kita dapatkan dengan perempuan yang bersusah-susah mencari titik “klimaks” seorang pria dan keringat dari hasil bercinta 10 detik?10 menit?atau 10 jam mungkin? itu hanya membuat kita mengeluarkan tenaga yang tidak perlu especially, ‘baget’ yang tentunya tergantung “service” gadis remang-remang…nimatilah semua kenikmatan yg kalian rasa bisa memberi kenikmatan sejati yang sesungguhnya…karena pria punya selera! begitu juga wanita…karena wanita ingin dimengerti!
priez | 30/10/07 | Balas
ya… menurut saya pekerjaan atau buka bisnis seprti itu adalah pilihan hidup sih…
jadi tergantung bagaimana hati nurani yang mau membuka PT. Hangat Sesa(a)t itu…
hwakz…hwakz…
tapi mungkin seru juga kalau binis seperti itu dilegalkan…
hehehe…
anindita widi s | 4/11/07 | Balas
Wah,klo gt saya jg mau donk daftar.Trserah mau d jadiin apa?Saya perempuan berusia 20 thn kulit saya kuning langsat tinggi 156cm.Saya udah punya pengalaman kerja gituan.Gimana mau trima saya ga…Klo mau email za k saya ni alamatnya.
Rizdi@rizma.Co.Id.
Rizma | 27/04/08 | Balas
mmmmmmm boleh diliat dulu???
iwan | 28/04/08 | Balas
Q juga Salatiga Boleh minta no HP ga??
MY | 9/07/08 | Balas
wah banyak komennya…. rame ni……
ada stock ga klo ada mau dong kirim via tiki
anndung | 30/08/08 | Balas
Wah,klo gt saya jg mau donk daftar.Trserah mau d jadiin apa?Saya perempuan berusia 20 thn kulit saya kuning langsat tinggi 156cm.Saya udah punya pengalaman kerja gituan.Gimana mau trima saya ga…Klo mau email za k saya ni alamatnya.
Rizdi@rizma.Co.Id.
panuan kaga????????
ha..ha..ha…
anndung | 30/08/08 | Balas
mmm…
artikel ringan dan menghibur
dalam menghadapi masalah pelacuran.
aw | 12/09/08 | Balas