Membeli Nilai Tukar
Admin pada tanggal 20/09/07 | Umum
Apakah seseorang yang membeli tanaman gelombang cinta seharga Rp 10 juta sedang membeli lembaran daun? Tidak! Rp 10 juta bukanlah harga beberapa daun hijau itu, tetapi orang itu sedang membeli sebuah nilai, ya … Banyak orang berpendapat bahwa Rp 10 juta sebuah value dari sebatang pohon plus daun-daun gelombang cinta, namun saya lebih senang menyebutnya sebuah nilai tukar. Nilai tukar karena seseorang yang mengeluarkan Rp 10 juta, berharap dapat menukarkan (menjual) gelombang cintanya seharga Rp 11 juta, 12 juta, 15 juta, bahkan 20 juta. Atau dia berpikir bahwa gelombang cintanya akan dapat ditukar dengan sebuah sepeda motor Honda Supra X.
Ya sebenarnya kalau mau dibilang agak “pesimis,” seseorang tadi sedang membayar sebuah mimpi (yang sering dapat menjadi kenyataan). Mimpi dapat memperoleh keuntungan dari Rp 10 juta yang dikeluarkannya itu. Jadi sebenarnya seseorang tadi tidak peduli apakah itu namanya gelombang cinta atau gelombang gila, daunnya hijau mengilap atau putih pucat. Yang dia pedulikan adalah Rp 10 juta tadi dapat “berkembangbiak” menjadi lebih banyak, sehingga jika dipandang dari “pelajaran bisnis,” seseorang tadi sedang berinvestasi, dan berharap akan mendapat return dan profit.
Nah, kalau dipandang dari sudut demikian ini, maka membeli nilai tukar itu hampir sama dengan orang yang mengeluarkan sejumlah uang untuk mengikuti (misalnya) sebuah permainan uang (money game). Money gamer sebenarnya tidak peduli bagaimana penyelenggaraan money game itu (misalnya apakah binary, full matrix, atau bagaimanapun sistemnya), tetapi peduli bahwa uang yang dikeluarkannya akan mendatangkan keuntungan. Money gamer ini sedang membeli sebuah nilai tukar. Bedanya dengan pembeli gelombang cinta, yang dapat melihat “barang”-nya secara jelas, seorang money gamer sedang membeli sebuah sistem yang tidak kasat mata, namun baik barang maupun sistem itu sama-sama (yang penting) memberi peluang untuk mendatangkan profit.
Hal yang sama terjadi juga pada berbagai macam program investasi, perdagangan valuta asing, saham, index, komoditas, dan lain-lain. Semua orang yang mengeluarkan uang untuk terjun di “bisnis-bisnis” tersebut, sedang membeli nilai tukar, yakni bahwa uang yang dikeluarkannya (diharapkan) akan dapat ditukar dengan keuntungan.
Lalu apa yang membedakan berbagai jenis bisnis yang ada di dunia ini? Sebenarnya yang membedakan “identitas” bisnis tersebut adalah sudut pandang penilaiannya. Misalnya, pebisnis konvensional, mengecam bahwa MLM itu sistem piramid, orang MLM menjawab, apakah bisnis konvensional juga bukan piramid? Contohnya di pabrik tekstil: satu presiden direktur (dengan gaji paling tinggi), beberapa direktur, dengan masing-masing beberapa manager, dan dengan ribuan buruh.
Pebisnis konvensional mengecam jika money game itu tidak ada barangnya. Money gamer menjawab, “Lha kalau tanpa barang saja bisa dapat uang, mengapa harus susah-susah pakai barang?”
Pebisnis konvensional mengatakan kalau main valas (forex) perdagangan index itu sama dengan judi. Apakah seorang yang sedang “kulakan” barang dagangan itu juga bukan “judi,” karena belum tentu barang dagangan itu semuanya laku?
Itulah kekuatan dari statistic dan tahu cara menempatkannya dengan benar. Tapi tentu aja ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar semuanya itu terlaksana dengan baik. (jangan kuatir syaratnya cukup mudah.., disiplin, dedikasi, tahu ilmu statistic dan tentu saja sedikit duit untuk modal ilmunya.)


ya semua tadi adalah benar adanya, jadi memang semua itu tergantung dari sudut pandang. jika tidak ingin salah memilih sudut pandang memang seharusnya kita lebih mawas dan tentunya di doakan dulu. supaya lebih patut dalam kita memilih dan menilai sudut pandang…… tetapi jangan sampai mengahakimi he..he…he
ishug | 23/09/07 | Balas
Investai di bidang trading forex BUKAN judi. seperti sepakbola, tergantung dr sudut mana kita memandang. Pemain akan menganggap itu olahraga atau pekerjaan, pebisnis menganggap lahan bisnis, lha penjudi….. ini ladang totohan ^_^. Tul gak ? Kl kurang yakin, bisa kontak saya di yopy_h_2903@yahoo.com. terima kasih.
Yopy | 18/06/08 | Balas
intinya, yang jelas Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, ada beberapa syarat jual beli berdasarkan syariah antara lain: berjual beli untuk kemaslahatan, BARANG yg dijual belikan bkan brg najis atau terlarang, tdk diperdagangkan dengan bnyk makelar (syamsiro)dan lainnya,
SAMSUDIN ASHYAR | 21/10/08 | Balas