Bisnis Rohani
Admin pada tanggal 19/09/07 | Umum
Teman saya bilang, “Kalau mau kaya, jadilah pendeta.” Bayangkan, seandainya perpuluhan dari jemaat itu dijalankan benar-benar, maka jika gereja memiliki 10 jemaat, penghasilan pendeta sudah sama dengan rata-rata penghasilan jemaatnya. Jika gereja memiliki 100 jemaat, pendeta akan memiliki penghasilan 10 kali lipat rata-rata penghasilan jemaatnya. Bayangkan jika gereja memiliki 4000, 5000, atau 10.000 jemaat, sudah jelas pendetanya akan kaya raya, bermobil mewah, berumah mewah, dan dengan bangga mengatakan itu semua adalah berkat Tuhan atas pelayanannya.
Teman saya yang lain bercerita, gereja Roma Katolik memiliki kemampuan finansial yang memadai, ternyata dari satu museum di Vatikan saja, menghasilkan lebih dari 8 triliun rupiah per tahun dari para pengunjungnya yang ribuan orang tiap harinya, yang menyebabkan museum itu hanya berani buka dari jam 10-12 siang saja. Padahal “bisnis”-nya tidak hanya satu museum itu.
Apakah negara Arab juga kaya karena ada “bisnis” naik haji? (selain penghasil minyak)
Israel kaya karena ada “bisnis” wisata rohani, mengunjungi jejak-jejak Yesus Kristus?
Mengapa Indonesia tidak dapat “membisniskan” Borobudur yang luar biasa itu?
So, saya hanya ingin mengatakan bahwa terbuka peluang untuk berbisnis pada bidang-bidang yang “berbau” rohani, tapi ya perlu hati-hati agar bisnisnya tidak terlalu mencolok, dan menjadi lupa bidang rohaninya.
Atau kalau mau aman, jika kuatir tidak dapat mengatasi konflik “duniawi-rohani,” ya jalankan bisnis lepas dari aspek-aspek rohani, dan jalankan pelayanan, lepas dari aspek-aspek bisnis.
Saya tidak tahu apakah salah atau benar menjalankan bisnis rohani, tetapi yang jelas bisnis rohani itu dilakukan oleh banyak orang, dari dulu hingga sekarang. Misalnya, toko buku rohani, biro perjalanan wisata ziarah, biro perjalanan haji, bahkan percetakan kitab suci dan penjualan kitab suci serta hak cipta (copyright) untuk menerbitkan kitab suci.
Nih, contoh bisnis rohani: Bless(ed) 2 Bless(ed).
Itulah kekuatan dari statistic dan tahu cara menempatkannya dengan benar. Tapi tentu aja ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar semuanya itu terlaksana dengan baik. (jangan kuatir syaratnya cukup mudah.., disiplin, dedikasi, tahu ilmu statistic dan tentu saja sedikit duit untuk modal ilmunya.)


Bisnis rohani ndak apa kok yang penting motivasinya dijaga.jangan hanya cari keuntungan
semata, tapi lakukan semuanya buat Tuhan, nanti
semuanya pasti Tuhan bakalan tambahin dan penuhi kebutuhan kita.
Karena Tuhan melihat hati.GBU
Ida | 2/10/07 | Balas
melakukan buat Tuhan? nggak usah buat Tuhan yang nggak kelihatan, buat kesejahteraan sesama manusia saja sudah bagus kok…
Ida..,kamu bisnis apa sekarang? rohani apa duniawi? (asal jangan bisnis barang/hal haram…)
wit | 4/10/07 | Balas
borobudur memang sudah dibisniskan bosss… hanya saja ngga dijalankan dengan baik… elemen-elemen yang berwenang malah saling berebutan lahan… semrawut lah…
AW | 10/10/07 | Balas
Tuhan mengajarkan kita untuk mensejahterakan daerah tempat tinggal kita. Jadi, saya pikir tidak masalah jika Rohani dijadikan lahan ‘Bisnis’, asalkan ‘hal rohani’ tersebut membawa kesejahteraan bagi umat.
Thanks.
Malki | 17/10/07 | Balas
Rohani untuk bisnis???menurut saya itu wajar aja..manusia didunia ini perlu memenuhi kebutuhanya dengan berbagai cara pekerjaan, dan salah satunya dengan memanfaatkan tempat-tempat rohani atau buku-buku rohani.Dan dengan memanfaatkan semua itu Tuhan dan Negara tidak melarang..dan masyarakat mempunyai untuk semua itu kan!!!
Maria | 23/10/07 | Balas
Bisnis rohani.its ok ko…tentu aja ada dua tujuan dalam bisnis rohani, tujuan materialistik n tujuan mulia yg ada hubungan dengan rohani tentunya.memberikan kemudahan ataupun pengetahuan tentang kerohanian sambil berbisnis, ga masalah!
Lucia | 15/11/07 | Balas